Rabu, 03 April 2013

Menjahit luka



Jahitan digunakan untuk hemostasis atau untuk menghubungkan struktur anatomi yang terpotong (Sabiston,1995). Menurut Sodera dan Saleh (1991), jahitan merupakan hasil penggunaan bahan berupa benang untuk mengikat atau ligasi pembuluh darah dan menghubungkan antara dua tepi luka. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penjahitan merupakan tindakan menghubungkan jaringan yang terputus atau terpotong untuk mencegah pendarahan dengan menggunakan benang.

Prinsip Umum Penjahitan luka
Menurut Brown (1995), prinsip–prinsip umum yang harus dilaksanakan dalam penjahitan luka laserasi adalah sebagai berikut :
  1. Penyembuhan akan terjadi lebih cepat bila tepi-tepi kulit dirapatkan satu sama lain dengan hati-hati.
  2. Tegangan dari tepi–tepi kulit harus seminimal mungkin atau kalau mungkin tidak ada sama sekali. Ini dapat dicapai dengan memotong atau merapikan kulit secara hati–hati sebelum dijahit.
  3. Tepi kulit harus ditarik dengan ringan, ini dilakukan dengn memakai traksi ringan pada tepi–tepi kulit dan lebih rentan lagi pada lapisan dermal daripada kulit yang dijahit.
  4. Setiap ruang mati harus ditutup, baik dengan jahitan subcutaneus yang dapat diserap atau dengan mengikutsertakan lapisan ini pada waktu mmenjahit kulit.
  5. Jahitan halus tetapi banyak yang dijahit pada jarak yang sama lebih disukai daripada jahitan yang lebih besar dan berjauhan.
  6. Setiap jahitan dibiarkan pada tempatnya hanya selama diperlukan. Oleh karena itu jahitan pada wajah harus dilepas secepat mungkin (48 jam - 5 hari), sedangkan jahitan pada dinding abdomen dan kaki harus dibiarkan selama 10 hari atau lebih.
  7. Semua luka harus ditutup sebersih mungkin.
  8. Pemakaian forsep dan trauma jaringan diusahakan seminimal mungkin.
Menurut Sodera dan Saleh (1991), penjahitan merupakan suatu cara menjahit untuk mendekatkan  atau menghubungkan dua tepi luka. Dapat dibedakan menjadi :
  1. Jahitan Primer (primary Suture Line) adalah jahitan yang digunakan untuk mempertahankan kedudukan tepi luka yang saling dihubungkan selama proses penyembuhan sehingga dapat sembuh secara primer.
  2. Jahitan Kontinyu yaitu jahitan dengan sejumlah penjahitan dari seluruh luka dengan menggunakan satu benang yang sama dan disimpulkan pada akhir jahitan serta dipotong setelah dibuat simpul. Digunakan untuk menjahit peritonium kulit, subcutis dan organ.
  3. Jahitan Simpul/Kerat/Knot, yaitu merupakan tehnik ikatan yang mengakhiri suatu jahitan. Digunakan untuk memperkuat dan mempertahankan jahitan luka sehingga jahitan tidak terlepas atau mengendor. Yang dimaksud dengan jerat adalah pengikatan satu kali, sedang simpul adalah pengikatan dengan dua jerat atau lebih.
Jenis–jenis Benang yang Digunakan dalam Penjahitan Luka
  1. Seide (Silk/Sutra) : Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi dengan perekat, tidak diserap oleh tubuh. Pada penggunaan disebelah luar, maka benang harus dibuka kembali. Berguna untuk menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri besar. Ukuran yang sering digunakan adalah nomor 2 nol 3 nol, 1 nol dan nomor 1.
  2. Plain Catgut : Bersifat dapat diserap tubuh, penyerapan berlangsung dalam waktu 7–10 hari dan warnanya putih kekuningan. Berguna untuk mengikat sumber pendarahan kecil, menjahit subcutis dan dapat pula digunakan untuk bergerak dan luas lukanya kecil. Benang ini harus dilakukan penyimpulan 3 kali karena dalam tubuh akan mengembang. Bila penyimpulan dilakukan hanya 2 kali akan terbuka kembali.
  3. Chromic Catgut : Bersifat dapat diserap oleh tubuh, penyerapannya lebih lama yaitu sampai 20 hari. Chromic Catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan dengan plain catgut. Berguna untuk penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu 10 hari dan bila mobilitas harus segera dilakukan.
Komplikasi Menjahit Luka
  1. Overlapping :  Terjadi sebagai akibat tidak dilakukan adaptasi luka sehingga luka menjadi tumpang tindih dan luka mengalami penyembuhan yang lambat dan apabila sembuh maka hasilnya akan buruk.
  2. Nekrosis : Jahitan yang terlalu tegang dapat menyebabkan avaskularisasi sehingga menyebabkan kematian jaringan.
  3. Infeksi : Infeksi dapat terjadi karena tehnik penjahitan yang tidak steril, luka yang telah terkontaminasi, dan adanya benda asing yang masih tertinggal.
  4. Perdarahan : Terapi antikoagulan atau pada pasien dengan hipertensi.
  5. Hematoma : Terjadi pada pasien dengan pembuluh darah arteri terpotong dan tidak dilakukan ligasi/pengikatan sehingga perdarahan terus berlangsung dan menyebabkan bengkak.
  6. Dead space (ruang/rongga mati) : Yaitu adanya rongga pada luka yang terjadi karena penjahitan yang tidak lapis demi lapis.
  7. Sinus : Bila luka infeksi sembuh dengan meninggalkan saluran sinus, biasanya ada jahitan multifilament yaitu benang pada dasar sinus yang bertindak sebagai benda asing.
  8. Dehisensi : Adalah luka yang membuka sebelum waktunya disebabkan karena jahitan yang terlalu kuat atau penggunaan bahan benang yang buruk.
  9. Abses : Infeksi hebat yang telah menghasilkan produk pus/nanah.
  10. PERSIAPAN ALAT:
    Ø Sarung tangan steril
    Ø Duk lubang
    Ø Set alat bedah minor
    Ø Benang jahit
    Ø Jarum jahit
    Ø Kassa steril
    Ø Cairan normal saline (Nacl 0.9%)
    Ø Cairan antiseptik
    Ø Korentang steril dan tempatnya
    Ø Perlak dan pengalasnya
    Ø Obat anastesi
    Ø Plester
    Ø Gunting plester
    Ø Kom steril
    Ø Tempat sampah medis
    Ø Disposible syringe
    Ø Larutan H2O2/perhidrol
    Ø Celemek
    Ø Masker
    Ø Trolly

     II.PROSEDUR/CARA KERJA
    Ø Cuci tangan dan keringkan,kemudian pakai sarung tangan steril
    Ø Menyiapkan alat
    Ø Bersihkan luka menggunakan cairan antiseptik
    Ø Ganti sarung tangan dengan sarung tangan steril yang lain
    Ø Jaringan disekitar luka dianastesi
    Ø Bila perlu bersihkan luka dengan cairan normal saline(Nacl 0.9%)
    Ø Bila luka kotor dan dalam gunakan larutan H2 O2/perl hidrol 10%
    Ø Pasang duk lobang
    Ø Gunakan jarum untuk menjahit kulit,masukan benang ke lubang jarum,pada penggunaan jarum melengkung(curved needle) dari arah dalam keluar.
    Ø Pegang jarum dengan menggunakan klem,kemudian mulai menjahit luka.
    Ø jika luka dalam sampai jaringan otot,maka jahit lapis demi lapis (jenis benang disesuaikan dengan jaringan yang robek,contoh:catgut,chromic,side,dll)
    Ø Ikat benang dengan membentuk simpul.
    Ø Potong benang, sisakan sepanjang 1 cm (untuk jahitan dalam), 0.65cm (jahitan luar)
    Ø Lanjutkan menjahit luka sampai luka tertutup.
    Ø Oleskan normal salin/desinfectan pada jahitan.
    Ø Tutup dengan kassa steril.
    Ø Pasang plester/hipafix.




Rabu, 13 Maret 2013

Fisiologi pernafasan


SEL-SEL HIDUP MEMERLUKAN DAN MEMPERROLEH OKSIGEN SERTA MELEPASKAN 
KARBON DIOKSIDA PADA CAIRAN SEKITARNYA
•  (FUNGSI SUPPLY  OKSIGEN)
PERNAPASAN EKSTERNAL: PERTUKARAN GAS-GAS PERNAPASAN ANTARA TUBUH DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA
PERNAPASAN INTERNAL:PERTUKARAN GAS-GAS ANTARA SEL-SEL JARIGAN DAN LINGKUNGAN CAIRAN SEKITARNYA
SALURAN PERNAPASAN
FUNGSI PERNAPASAN HIDUNG :
1.UDARA DIHANGATKAN OLEH PERMUKAAN KONKA DAN SEPTUM (LUAS AREA SEKITAR 160 cm2.
2.UDARA DILEMBABKAN .
3.UDARA DISARING OLEH:- BULU2 PADA PINTU MASUK
          -  TURBNATES:  KONKA,SEPTUM,    DINDING FARING,  MUKUS PELAPIS
 
  DISAPU OLEH SILIA
  KE FARING
  DITELAN
  UKURAN PARTIKEL > 6 MIKRO METER 
•FUNGSI PERNAPASAN TRAKEA,BRONKUS,BRONKIOLUS
•DISEMUA BAGIAN TRAKEA,BRONKUS,BRONKIOLUS TERUTAMA TERBENTUK OLEH OTOT POLOS DAN CINCIN2 KARTILAGO
•MUKUS DISEKRESIKAN SEBAGIAN OLEH SEL GOBLET DALAM EPITEL SALURAN NAPAS DAN SEBAGIAN OLEH KELENJAR SUBMUKOSA YANG KECIL
•FUNGSI MUKUS:- MEMPERTAHANKAN KELEMBABAN UDARA
                - MENANGKAP PARTIKEL2 KECIL DARI  UDARA INSPIRASI
    EPITEL BERSILIA PADA PERMUKAAN MASING2 SALURAN NAPAS BERJUMLAH SEKITAR 200 SILIA YANG TERUS MENERUS MENYAPU DENGAN KECEPATAN 10-20 X /DETIK
     ARAH MENYAPU KE FARING (KE ATAS),KECEPATAN ALIRAN MUKUS SEKITAR 1 cm /MENIT 
VENTILASI PARU
ADALAH PROSES KELUAR MASUKNYA UDARA KEDALAM PARU
•PADA SAAT INSPIRASI UDARA MASUK MELALUI SALURAN NAPAS,DAN UDARA KELUAR PARU PADA SAAT EKSPIRASI
•PADA DEWASA NORMAL SETIAP MENITNYA TERJADI 12-18KALI NSPIRASI DAN EKSPIRASI
•SETIAP KALI INSPIRASI AKAN MASUK UDARA 400-500 ml
•SELAMA SATU MENIT BESARNYA VENTILASI 5000-8000 ml
 PRINSIPNYA SELURUH BAGIAN PERNAPASAN TETAP TERBUKA
 AGAR UDARA DAPAT KELUAR MASUK ALVEOLI 
MEKANIKA VENTILASI
•HAL-HAL YANG MENIMBULKAN PENGEMBANGAN DAN PENGEMPISAN PARU:
     OTOT-OTOT:- DIAFRAGMA:BERGERAK TURUN NAIK UNTUK      MEMPERBESAR ATAU MEMPERKECL RONGGA DADA (INSPIRASI ------àKONTRAKSI DIAFRAGMA MENARIK PERMUKAAN BAWAH PARU KE BAWAH; EKSPIRASI-àDIAFRAGMA RELAKSASI)
     - * M.INTERKOSTALIS EKSTERNA DAN DIBANTU OLEH M.STERNOCLEIDOMASTOIDEUS,M.SERRATUS ANTERIOR,M.SKALENUS -----àMENGANGKAT RANGKA IGA SEHINGGA DIAMETER ANTERO POSTERIOR MEMBESAR SAAT INSPIRASI.
     * M.REKTUS ABDOMINIS DAN M.INTERKOSTALIS INTERNUS MENARIK IGA KE BAWAH SELAMA EKSPIRASI.
2. PERGERAKAN UDARA KE DALAM DAN KE LUAR PARU-PARU DAN TEKANAN YANG MENYEBABKAN HAL TERSEBUT
           
TEKANAN PLEURA: NORMAL SAAT DIMULAI INSPIRASI MINUS 5cmH2O, SELAMA INSPIRASI TURUN SEKITAR – 7,5 cmH2O KARENA RONGGA DADA MENGEMBANG MENDORONG PERMUKAAN PARU DENGAN KEKUATAN LEBIH BESAR--àPENINGKATAN VOLUME PARU 0,5 L , PADA SAAT EKSPIRASI SEBALIKNYA

TEKANAN ALVEOLUS: UNTUK MENYEBABKAN ALIRAN UDARA KE DALAM SELAMA INSPIRASI,TEKANAN ALVEOLI HARUS TURUN SAMPAI NILAINYA SEDIKIT DIBAWAH TEKANAN ATMOSFIR ATAU SEKITAR – 1 cm H2O (SAAT TIDAK ADA UDARA KELUAR MASUK PARU TEKANAN PADA SEMUA BAGIAN JALAN NAPAS = TEKANAN ATMOSFIR =0 cmH2O)
     ----àSELAMA INSPIRASI NORMAL MENGALIRKAN UDARA SEKITAR 0,5 L KE PARU
 DALAM WAKTU 2 DETIK.
     SELAMA EKSPIRASI TEKANAN ALVEOLUS MENINGKAT SEKITAR +1 cmH2O -------àMENDORONG 0,5 L UDARA INSPIRASI KE LUAR PARU SELAMA 2 – 3 DETIK

TEKANAN TRANSPULMONAL: PERBEDAAN ANTARA TEKANAN ALVEOLI DAN 
 TEKANAN PLEURA ---àNILAI DAYA ELASTISITAS PARU (COMPLIANCE PARU)    

    COMPLIANCE PARU ADALAH NILAI DIMANA PENGEMBANGAN PARU UNTUK SETIAP UNIT DAPAT MENINGKATKAN TEKANAN TRANSPULMONER: 200 ml/cm H2O, ARTINYA SETIAP PENINGKATAN TEKANAN TRASPULMONER 1 cmH2O TERJADI PENGEMBANGAN PARU 200 ml
    COMPLAIN PARU DAN TORAKS BERSAMA-SAMA :   110 ml/cm H2O
TEGANGAN PERMUKAAN ALVEOLAR
     CAIRAN YANG MELAPISI ALVEOLAR MENGADUNG :
     SURFAKTAN: SUATU LIPID YANG MERENDAHKAN TEGANGAN PERMUKAAN PADA SAAT ALVEOLUS KECIL 
•DIFUSI GAS-GAS PERNAPASAN
   UDARA LUAR (ATMOSFIR) HAMPIR SELURUHNYA N2(78,62%) & O2(20,84%),SEDIKIT CO2((0,04%) & H2O(0,50%) --àINSPIRASI---àSALURAN NAPAS ATAS (N2 74,09%;O2 19,67%;CO2 O,O4%;H2O 6,20%--à ALVEOLUS (N2 74,9%;O2 13,6%;CO2 5,3%;H2O 6,2%) -----àBERDIFUSI KE DALAM DARAH PARU-PARU)- ------àDITRANSPORT KE JARINGAN----àKAPILER JARINGAN-----àBERDIFUSI KELUAR DARI KAPILER KE RUANG INTERTITIAL---àSELàPROSES METABOLISME DI DALAM SEL/JARINGAN---àDITRANSPORT KEMBALI KE PARU----àEKSPIRASI (N2 74,5%;O2 15,7%;CO2 3,6%;H2O 6,2%)
•DIFUSI PADA MEMBRAN PERNAPASAN
   TERDAPAT LEBIH KURANG 300 JUTA ALVEOLI DI KEDUA PARU,
    1 ALVEOLUS BERDIAMETER 0,2mm DAN DALAM DINDING ALVEOLUS YANG SANGAT TIPIS TERDAPAT ANYAMAN2 KAPILER--------àMEMBENTUK MEMBRAN PERNAPASAN :
     1. LAPISAN CAIRAN YANG MELAPISI ALVEOLUS(SURFAKTAN)
     2. EPITEL ALVEOLUS
     3. MEMBRAN BASALIS EPITEL
     4. RUANG INTERTITIAL TIPIS ANTARA EPITEL DAN MEMBRAN
          KAPILER
      5. MEMBRAN BASALIS KAPILER--àPADA BEBERAPA TEMPAT
          BERSATU DENGAN MEMBRAN BASALIS EPITEL
      6. MEMBRAN ENDOTEL KAPILER  
  TEBAL MEMBRAN PERNAPASAN  O,2 – 0,6 mikrometer
     LUAS PERMUKAAN KESELURUHAN  70 m2 (DEWASA NORMAL)
     JUMLAH DARAH DALAM KAPILER SESAAT  60-140 cc
     FAKTOR2 YANG MEMPENGARUHI KECEPATAN DIFUSI:
     1.KETEBALAN MEMBRAN YANG DAPAT MENINGKAT OK:
        - EDEMA DALAM RUANG INTERSTITIAL DAN DALAM ALVEOLI
        - FIBROSIS PARU
      2.LUAS PERMUKAAN MEMBRAN YANG DAPAT MENURUN OK:
        - PENGANGKATAN BAGIAN PARU
        - EMISEMA,BEBERAPA ALVEOLI BERSATU KARNA
          HANCUR SEBAGIAN DINDING ALVEOLUS
      3.KOEFISIEN DIFUSI (O2 1,0 ; CO2 20,3 ; CO 0,81 ; N2 0,53 )
         ----àTINGKAT KELARUTAN DALAM MEMBRAN
      4.PERBEDAAN TEKANAN ANTARA KEDUA SISI MEMBRAN
         PERNAPASAN (PERBEDAAN ANTARA TEKANAN GAS DALAM
         ALVEOLI DAN DALAM DARAH )
TRANSPOR O2 DAN CO2 DALAM DARAH
    TRANSPOR O2:
     TERGANTUNG PADA:
      - JUMLAH O2 YANG MASUK DALAM PARU
      - ADANYA PERTUKARAN GAS DALAM PARU YANG
         ADEKUAT
       - ALIRAN DARAH MENUJU JARINGAN (DERAJAT
         KONTRIKSI VASKULER DALAM JARINGAN DAN
         CURAH JANTUNG )
       - KAPASITAS DARAH MENGANGKUT O2 (JUMLAH
         O2 YANG LARUT,JUMLAH Hb DALAM DARAH,
          AFINITAS Hb TERHADAP O2
   DARAH ORANG NORMAL MENGANDUNG 15 gr Hb
    SETIAP 100 ml DARAH ( 15 gr% )
     O2 YANG DI TRANSPOR :- 97% DALAM IKATAN
                                                   KIMIA DENGAN Hb
                                                   ( HbO2 )
                                                 - 3% TERLARUT DALAM
                                                   AIR DARI PLASMA DAN
                                                   SEL
    JUMLAH TOTAL O2 YANG TERIKAT DENGAN Hb PADA DARAH ARTERI NORMAL (PO2 95mmHg) 19,4ml/100ml DARAH
    SEWAKTU MELEWATI KAPILER JARINGAN (PO2 40mmHg) JUM
    LAH O2 YANG TERIKAT Hb MENJADI 14,4ml/100ml DARAH----------à 5 ml O2 DITRANSPOR KE JARINGAN SETIAP 100 ml DARAH

•TRANSPOR CO2:
    RATA2 4ml CO2 DITRANSPOR DARI JARINGAN KE
    PARU-PARU DLM SETIA DESLITER DARAH
    BENTUK KIMIA CO2 SAAT DITRANSPOR:
    1.CO2 TERLARUT DALAM DARAH (7%)
         PCO2 DARAH VENA 45mmHg, DARAH ARTERI 40mHg
    2.DALAM BENTUK ION BIKARBONAT (70%)
    3.DALAM GABUNGAN DGN Hb DAN PROTEIN
       LASMA MEMBENTUK SENYAWA KARBAMINO
       HEMOGLOBIN(CO2Hgb)----23%

  (Majelis ke 2) FAQIR (Fathur-Rabbany) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ   اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورس...