Rabu, 26 Februari 2020

Bai’atur Ridwan

Perstiwa Baitur Ridwan

Dimulai saat Rasulullah SAW memanggil Umar bin Khattab r.a dengan maksud mengutusnya ke negeri Mekkah untuk menyampaikan pesan beliau kepada para pembesar Quraisy tentang keinginan beliau dan para sahabatnya untuk berziarah ke Baitullah. Kemudian Umar mengatakan “Wahai Rasulullah, aku takut orang-orang Quraisy akan menimpakan sesuatu terhadap diriku. Sedangkan di kota Mekkah tidak ada seorang pun dari Bani Adi yang akan menolongku. Sedangkan orang-orang Quraisy telah mengetahui bagaimana kebencian dan amarahku pada mereka. Akan tetapi aku akan menunjukkan kepada engkau seseorang yang lebih terhormat di kalangan mereka daripada aku, yaitu Utsman bin Affan r.a. Kita utus dia untuk menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy lainnya untuk memberi kabar kepada mereka bahwa dia tidak datang kepada mereka untuk berperang, akan tetapi dia datang untuk menziarahi Baitullah dan mengagungkan kehormatannya”. Maka Utsman pun pergi menuju kota Mekkah. Utsman bin Affan r.a bertemu dengan Aban bin Sa`id bin Ash yang  kemudian menemaninya hingga beliau dapat menyampaikan surat dari Rasulullah SAW.
Kemudian Utsman bin Affan datang menjumpai Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy yang lain seraya memberitakan kepada mereka tentang surat yang dikirimkan kepada mereka. Mereka lalu mengatakan kepada Utsman bin Affan “Bila anda hendak berthawaf di Baitullah, maka berthawaflah”, Utsman mengatakan “Aku tidak akan melakukannya hingga Rasulullah SAW berthawaf”. Orang-orang Quraisy kemudian menahan Utsman bin Affan di sisi Kakbah. Maka sampailah berita kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin bahwa Utsman telah dibunuh. Ibnu Ishaq mengatakan”Abdullah bin Abu Bakar telah menceritakan kepadaku bahwa ketika sampai berita terbunuhnya Utsman kepada Rasulullah SAW maka beliau bersabda “Kita tidak akan tinggal diam sehingga kita berperang dengan kaum itu”
Ayat ini turun karena suatu peristiwa diatas.
Terjadinya Bai’atur Ridwan (Al-Fath. Ayat 8-10)
8  Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,
9  supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
10 Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Baitur Ridwan sebagai Janji Setia yang Agung

 

Allah berfirman di QS Al Fath ayat 10 “Bahwasanya orang-orang yang  berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat dia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”.

      Janji setia yang disebutkan dalam ayat ini adalah janji Baitur Ridhwan yang dilakukan di bawah sebuah pohon yang terletak di Hudaibiyah. Dan para sahabat r.a yang ikut berjanji setia kepada Nabi Muhammad SAW ketika itu berjumlah 1400 orang.
Kemudian Rasulullah SAW berseru kepada orang banyak untuk mengadakan janji setia. Janji mereka itu kemudian dinamakan Baitur Ridhwan yang dilaksanakan di bawah pohon. Orang-orang pun mulai melaksanakan janji setia. Dan tidak ada orang yang enggan untuk melaksanakannya kecuali Al Jad bin Qais, saudara Bani Salamah. Jabir bin Abdillah mengatakan “Demi Allah, sungguh aku seolah-olah melihatnya merapat dengan ketiak untanya yang dia tuju. Dengan untanya itu ia bersembunyi dari orang banyak.Kemudian datanglah berita kepada Rasulullah SAW bahwa berita tentang kematian Utsman itu dusta belaka. Sedangkan telah terdapat di dalam perjanjian itu bahwa mereka yang berjanji tidak akan lari dari berperang untuk selamanya. Hal itu telah membuat Kaum Musyrikin ketakutan. Dan merekapun mengirimkan orang-orang muslim yang ada bersama mereka dan mereka meminta untuk mengadakan gencatan senjata dan perdamaian”
Abu Bakar Al Hamidi meriwayatkan bahwa Jabir r.a berkata “Pada peristiwa Hudaibiyah itu kami berjumlah 1400 orang. Maka bersabdalah Rasulullah SAW kepada kami `Kalian semua adalah penduduk bumi yang paling baik`”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan masuk neraka seseorang yang pernah mengikat janji setia di bawah pohon ini”
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir r.a “Seorang budak kepunyaan Hathib bin Abi Balta`ah datang mengadukan tuannya yaitu Hathib. Si Budak berkata “Wahai Rasulullah, pastilah Hathib itu akan masuk neraka”, kemudian Rasulullah SAW bersabda”Engkau telah berdusta. Dia tidak akan masuk di didalamnya, karena dia telah ikut dalam Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyah.”
Itulah sebabnya Allah SWT berfirman dengan memberikan sanjungan kepada mereka “Bahwasanya orang-orang yang  berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat dia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. Allah juga berfirman di ayat yang lain “ Sesungguhnya Aku telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu dibawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat”(QS Al Fath ayat 18)
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-Muqadimah menyatakan,
البيعة هي العهد على الطاعة، كأن المبايع يعاهد أميره على أنه يسلم له النظر في أمر نفسه وأمور المسلمين، لا ينازغه في شيء من ذلك، ويطيعه فيما يكلفه به من الأمر على المنشط والمكره
”Bai’at adalah janji untuk taat. Seolah orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijakan terkait urusan dirinya dan urusan kaum muslimin. Tanpa sedikitpun berkeinginan menentangnya. Serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.” (Mukadimah Ibnu Khaldun, 1/108).
Istilah baiat telah dikenal sejaka masa silam, bahkan sebelum Islam. Masyarakat memberikan baiatnya kepada masing-masing kepala kabilah mereka. Mentaati setiap perintah dan larangan pimpinan kabilah.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, setiap orang yang masuk islam, membaiat beliau. Mereka berjanji setia untuk mendengar dan taat kepada semua aturan beliau dan juga berbaiat untuk melindungi beliau.
Dalam sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita mengenal baiat aqabah pertama, baiat aqabah kedua, kemudian ada juga baiat ridhwan, untuk menuntut darah Utsman.
Salah satu isi baiat sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinyatakan dalam hadis dari Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa orang Madinah yang membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bertanya,
“Apa yang harus kami Baiatkan?”
Lalu beliau bersabda,
تبايعوني على السمع والطاعة في النشاط والكسل وعلى النفقة في العسر واليسر وعلى الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وعلى أن تقولوا في الله لا يأخذكم في الله لومة لائم وعلى أن تنصروني إذا قدمت عليكم وتمنعوني ما تمنعون منه أنفسكم وأزواجكم وأبناءكم فلكم الجنة
Kalian baiat aku untuk mendengar dan taat, baik ketika sedang semangat maupun lagi malas. Untuk memberi nafkah baik ketika sedang sulit maupun sedang longgar, untuk selalu amar makruf nahi munkar, menyatakan kebenaran syariat Allah, tanpa takut dengan celaan apapun. Dan baiat untuk membelaku jika aku datang ke negeri kalian, dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, istri kalian, dan anak kalian. Sehingga kalian mendapat surga. (HR. Ibn Majah 7012 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Demikianlah para khalifah, semuanya dibaiat oleh ahlul halli wal aqdi, sebagai wakil dari umat.

Wajib Baiat Kepada Pemerintah yang Sah

Islam sangat antuasias untuk mewujudkan persatuan umatnya. Sementara persatuan tidak mungkin terwujud, kecuali jika di sana ada satu imam yang memimpin semuanya. Karena itulah, ketika di tengah kaum muslimin ada pemimpin dan pemerintah yang sah, maka kaum muslimin diwajibkan membaiatnya.
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada ikatan bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah”. (HR. Muslim 4899).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya mati dalam kondisi jahiliyah karena manusia yang hidup di zaman jahiliyah, mereka tidak punya pemimin satu negara. Adanya pemimpin kabilah-kabilah kecil. Sehingga peluang terjadinya peperangan antar-suku sangat besar.
An-Nawawi mengatakan,
(ميتة جاهلية) أي على صفة موتهم من حيث هم فوضى لا إمام لهم
Mati dalam keadaan jahiliyah artinya mati seperti orang jahiliyah, dimana mereka suka perang, kacau, tidak punya pemimpin tunggal. (Syarh Shahih Muslim, 12/238).
Sehingga makna hadis, orang yang tidak membaiat pemerintah yang sah, seperti orang jahiliyah. Ini sejalan dengan keteragan di hadis lain, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa yang tidak mau taat, memisahkan diri dari jamaah (di bawah imam), hingga dia mati maka dia mati jahiliyah.” (HR. Muslim 1848).
Demikian pula ketika dalam satu wilayah negara ada lebih dari satu pemimpin, maka salah satunya harus dibunuh.
Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
“Jika ada dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang dibaiat terakhir”. (HR. Muslim 4905)
Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَايَعَ إِمَاماً فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ َإِنْ جِاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ
“Barangsiapa berbai’at kepada seorang imam (penguasa), ia memberikan telapak tangannya dan buah hatinya, maka hendaklan ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, jika kemudian ada orang lain yang menentangnya, maka penggallah leher orang itu.” (HR. Ahmad 6657, Abu Daud 4250 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Bai’at adalah pelantikan, peresmian, penobatan (tahbis) seorang yang memiliki keseriusan dalam menempuh jalan pengetahuan (makrifat) Allah melalui seorang Mursyid yang diyakini memiliki hubungan khusus secara jasmani dan ruhani kepada Rasulullah Saw. Bai’at, talqin, pemberian ijazah atau inisiasi spiritual dikaitkan dengan peristiwa Bai’atur Ridwan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Ketika itu para sahabat menyatakan janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya. Peristiwa ini dilukiskan dalam Al-Quran:
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿الفتح:١٨
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)
Di zaman Rasulullah Saw, bai’at diberlakukan terhadap mereka yang hendak masuk  agama Islam serta bagi yang berkeinginan menunaikan pekerjaan-pekerjaan (perintah) agama. Di antara bai’at yang ada waktu itu adalah bai’at untuk taat dan patuh kepada Rasulullah Saw.[2]
Berbai’at untuk berlaku taat merupakan perintah syar’i dan Sunnah Rasulullah Saw meskipun telah beriman terlebih dahulu. Karena bai’at merupakan pembaharu janji setia serta penguat jalinan kepercayaan beragama
Ada yang memiliki persepsi keliru bahwa bai’at hanya dilakukan di saat peperangan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika menghadapi kaum kafir Mekah. Padahal asbabun nuzul (sebab turunnya) kedua ayat tersebut menunjukkan disyari’atkannya bai’at dan tidak ada penjelasan bahwa bai’at hanya dilakukan pada saat peperangan saja. Kebijakan syari’at bai’at dilakukan pada setiap zaman untuk membangun kepemimpinan.
Makna Bai’at
Secara etimologi Bai’at adalah Isim mashdar dari baa-ya’a-yubaaya’a-bay’atun [بايع – يبايع - بيعة]. Asalnya sama dengan baayi’un (transaksi)
Makna bai’at itu sendiri adalah sumpah setia dengan suatu kepemimpinan. Sehingga ada jalinan hubungan yang kuat antara yang memimpin dan yang dipimpin. Dengan prosesi bai’at terjalinlah ikatan hukum berupa hak dan kewajiban serta tanggung jawab kedua belah pihak secara adil dan proporsional. Adanya hak dan kewajiban ini merupakan hasil dari bai’at.
Bai’at lebih merupakan pernyataan komitmen spiritual secara formal di depan mursyid untuk menjalani hidup yang benar dan lurus. Bai’at dapat menjadi terapi kaget (shock theraphy) menuju untuk hijrah kepada susasana batin yang baru dan memberikan motivasi berkomitmen dalam kehidupan yang benar.
Bai’at di dunia tarekat bisa diperbarui seandainya seseorang memerlukan pengisian kembali (recharging ) energi spiritual dari mursyid. Namun perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa mursyid bukan tempat memberikan pengampunan dosa terhadap jamaah. Fungsi mursyid sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya hanya berfungsi sebagai motivator dan tutor yang dipercayai salik. 

Selasa, 14 Januari 2020

TAFSIR SURAH AL-FATIHAH MENURUT SULTHANUL AULIYA AL QUTB AR RABBANI MUHYIDDIN SAYYIDI SYEKH ‘ABDUL QADIR AL-JAILANI RHM

SULTHANUL AULIYA AL QUTB AR RABBANI MUHYIDDIN SAYYIDI SYEKH ‘ABDUL QADIR AL-JAILANI RHM pada pembukaan tafsir Surah Al-Fatihah mengungkapkan: “Sungguh sangat jelas bagi siapapun yang telah Allah Ta'ala bangkitkan dari tidur kelalaian dan kantuk kealpaan, bahwa seluruh alam semesta dan isinya tidak lain adalah mazhhar (manifestasi) dari berbagai sifat-sifat Allah yang lahir dari nama-nama Dzat-Nya. Hal itu karena, di setiap martabat dari Martabat-martabat Wujud, Dzat memiliki nama dan sifat khusus yang masing-masing memiliki atsar (impresi) tersendiri. Maka demikianlah semua Martabat Wujud. Meski wujud itu hanya sebutir zarah, sekerjap mata, atau secercah bersitan dalam hati.

Sedangkan, martabah (martabat) yang disebut dengan Ahadiyah yang tidak berbilang atau disebut juga al-‘ama’ adalah martabat yang tidak ada ruang bagi auliya’ dan ulama (untuk menggapainya), melainkan hanya al-hasrah (pilu hati), al-hairah (rasa kacau) al-walah (kebingungan) dan al-haiman (kehausan cinta).

Martabat Ahadiyah merupakan martabat yang menjadi puncak tertinggi pencapaian para nabi dan ujung suluk para wali. Setelah (sampai di martabat) itu, mereka akan “berjalan” di dalamnya dan pasti akan menuju kepada Allah, hingga mereka semua akan mengalami istighrâq (tenggelam secara total mengingat Allah) sampai mengalami al-hairah (kebingungan/keterpanaan spiritual) dan fana’. Tiada Tuhan selain Dia (lâ ilâha illâ huwa). Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya (kullu syai` hâlik illâ wajhah).

Kemudian, ketika Allah ingin membimbing hamba-hamba-Nya ke Martabat Ahadiyah tersebut—yakni agar mereka dapat kian dekat dan bertawajuh kepada-Nya hingga tawajuh dan taqarub mereka berakhir pada ‘isyq (rindu) dan mahabbah (cinta) yang paling hakiki (al-haqîqah al-haqqiyyah) saja, yang akan menyebabkan runtuhnya penyematan (al-idhafat) yang melahirkan kesan kepada keberbilangan atau dualitas terhadap Allah, yang setelah itu niat mereka menjadi murni dan layak untuk fana’—Allah menarik perhatian manusia untuk bergerak menuju ke jalan-Nya—sebagai bentuk bimbingan dan pengajaran kepada mereka—melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya serta dalam munajat-munajat bersama-Nya, yang dalam doa-doa dan munajat-munajat itu tersirat (isyarat akan) kembalinya yang banyak menuju tunggal yang sempurna, yakni ketunggalan sempurna (kamal al-wihdah) yang mengenyahkan keberbilangan (nihayah al-katsrah).”

SULTHANUL AULIYA AL QUTB AR RABBANI MUHYIDDIN SAYYIDI SYEKH ‘ABDUL QADIR AL-JAILANI RHM menafsirkan surah Al-Fatihah, satu per satu:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

“Dengan nama “Allah” yang merupakan istilah bagi Dzat Ahadiyah, hal ini berdasarkan pada; 1) Berdasarkan tanazzul-Nya (turunnya wujud dengan penyngkapan Tuhan) dari Martabat Ahadiyah, karena tidaklah mungkin untuk mengistilahkan Dzat-Nya dengan martabat asli-Nya; 2) Berdasarkan pada ketidakterbatasan dan kemencakupan-Nya atas segala asma dan sifat Ilahi yang kepadanya segala mazhhar bersandar, yang menurut ahli kasyf diistilahkan dengan al-a’yân ats-tsâbitah, dan menurut ahli syariat disebut dengan Lauh al-Mahfûzh dan al-Kitâb al-Mubîn.
Kata “Ar-Rahman” (Maha Pengasih) merupakan istilah bagi Dzat Ahadiyah, hal ini berdasarkan pada; 1) Berdasarkan tajalliyat-Nya pada lembaran alam semesta dan perkembangan-Nya dalam mulabas al-wujub dan al-imkan; 2) Berdasarkan tanazzul-Nya dari Martabat Ahadiyah kepada Martabat Al-‘Adadiyah (martabat keberbilangan); ta’ayyunat-Nya terhadap berbagai manifestasi ilmiah dan esensi; serta pengejawantahan-Nya melalui citra eksistensial.

Kata “Ar-Rahim” (Maha Penyayang) merupakan istilah bagi Dzat Ahadiyah yang diekspresikan melalui tauhid terhadap-Nya setelah disebutkan keberbilangannya; melalui penyatuannya setelah pemisahannya; penggabungannya setelah penghamparannya; pengangkatannya setelah penundukannya; dan tajrid-nya setelah taqyid-nya.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”

Segala puji dan pemuliaan yang menghimpun segala pujian dan pengharagaan yang lahir dari bahasa semua entitas semesta yang selalu bertawajuh kepada Penciptanya dengan ketaatan yang mengakui penghargaannya dengan cara bersyukur kepada Pemberi nikmat, baik melalui gerak maupun kata-kata, sejak azali, abadi, secara khusus dan ajek hanya untuk Allah, Dzat yang Menghimpun semua asma dan sifat yang melahirkan dan memelihara alam semesta seluruhnya karena Dia adalah Rabb semesta alam, yang jika saja pemeliharaan dan pelestaran Dia terhadap alam semesta hilang meski sesaat, niscaya alam semesta akan musnah sekaligus.

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
“Ar-Rahman (Maha Pengasih) yang Maha Memulai dan Maha Mencipta kehidupan dunia dengan merentangkan bayang-bayang asma-Nya yang baik dan sifat-Nya yang luhur di atas mir’ah al-‘adam yang darinya terlukis alam semesta dan segenap bagiannya; baik yang tampak maupun yang gaib; baik yang awal maupun yang akhir; serta segenap bagiannya tanpa terkecuali. Ar-Rahim (Maha Penyayang), yaitu Dzat yang berjanji kepada segala sesuatu atas kembangkitan kembali setelah langit ketinggian dan bumi kerendahan digulung kembali ke titik permulaan dan akhirnya (Allah) karena Dia adalah,
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
“Penguasa Hari Pembalasan”

Dia adalah Penguasa Hari Pembalasan dan ganjaran, yang menurut syariat disebut dengan istilah Hari Kimat atau al-Thâmmah al-Kubrâ. Pada hari inilah seluruh bumi dan langit akan hancur untuk kemudian semua catatan dari awal sampai akhir di bumi akan digulung.
Pada hari ini semua pandangan dan pikiran lenyap. Segala hijab dan tirai penghalang tersingkap. Semua entitas selain Allah akan sirna. Yang ada hanyalah Allah yang Mahaesa dan Mahapenakluk.
Ketika hamba telah sampai pada maqam dan tujuan ini, serta menyerahkan segala urusan kepada Allah, maka ia berhak selalu bersama Rabb-nya sebagai penyempurna martabat ubudiyah, sehingga tidak ada lagi khitab yang menjelaskan antara “aku dan kamu” dan tersingkap huruf “ghain” dan “’ain”. Pada saat itulah ucapan hamba akan selaras dengan bahasa tindakannya,
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Ini adalah kesaksian bahwa hanya kepada-Mu, Ya Allah, bukan kepada selain Engkau. Karena tidak ada yang lain bersama-Mu di alam wujud-Mu kami menyembah, bertawajuh dan menempuh suluk secara hina dan tunduk. Karena tidak ada sesembahan yang kami miliki selain Engkau, sebagaimana tidak ada tujuan selain hanya kepada-Mu dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Maksudnya, kami tidak memohon pertolongan dan kemampuan untuk menyembah-Mu, kecuali hanya pada-Mu, karena tidak ada tempat kami kembali selain Engkau.

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۹ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۗلِّيْنَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Ya Allah, tunjukilah kami dengan kelembutan-Mu, jalan yang lurus, yang dapat menghantarkan kami kepada puncak tauhid-Mu, yakni jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, dari kalangan para nabi, shiddiqun, syuhada, dan orang-orang saleh, yang menjadi teman-teman terbaik.
Bukan orang-orang yang Engkau murkai, yaitu orang-orang yang ragu dan lari dari jalan kebenaran yang terang, karena mengikuti akal yang penuh dengan ilusi. Dan bukan orang-orang yang sesat, disebabkan fatamorgana dunia yang hina dan godaan setan yang menyimpang dari jalan kebenaran dan hujah yang meyakinkan. Âmin... kami berharap ijabah dari-Mu wahai Dzat yang paling penyayang di antara para penyayang.

--
SULTHANUL AULIYA AL QUTB AR RABBANI MUHYIDDIN SAYYIDI SYEKH ‘ABDUL QADIR AL-JAILANI RHM.

Adab kelebihan dan Mamfaat ber ZIKIR,...

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan tentang adab berdzikr, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Dzikir adalah ibadah yang dilakukan oleh lisan dan hati berupa mentasbihkan (menyucikan) Allah Ta'ala, memuji-Nya, dan menyifati-Nya dengan sifat kesempurnaan dan keindahan.
Dzikr memiliki keutamaan yang banyak, diantaranya seperti yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala berikut ini,
أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'd:28)
Dan seperti dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»

"Orang-orang yang bersendiri telah mendahului. Para sahabat bertanya, "Siapakah orang-orang yang bersendiri?" Beliau menjawab, "Yaitu laki-laki dan wanita yang banyak berdzikr kepada Allah." (HR. Muslim)

“LAAILAAHAILLALLAH
MUHAMMADURRASULULLAH”

ADAB BERDZIKIR
Dalam berdzikir ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, diantaranya:
1.       Berusaha melazimi dzikr yang utama.
Dzikr yang utama ini adalah Shalat, membaca Al Qur'an, mengucapkan tasbih (Subhaanallah), tahmid (Al Hamdulillah), takbir (Allahu akbar), tahlil (Laa ilaa haillallah), hauqalah (Laa haula walaa quwwata illaa billah), istiqfar, istirja, basmallah, hasballah dsb.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ . لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ .
“Kalimat yang paling dicintai Allah SWT ada empat, yaitu: Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar. Tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja.” (HR. Muslim)
يَا عَبْدَ اَللَّهِ بْنَ قَيْسٍ! أَلَّا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ اَلْجَنَّةِ? لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ.
“Wahai Abdullah bin Qais, maukah kamu aku tunjukkan salah satu dari sekian perbendaharaan surga? Yaitu Laa haula wa laa quwwata illaa billah (artinya: tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini adalah dzikr mutlak yang seseorang dianjurkan banyak mengucapkannya kapan saja selama tidak bertepatan dengan dzikr muqayyad (dzikr pada kondisi tertentu yang telah diajarkan bacaannya secara khusus oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).
2.         Dianjurkan dalam keadaan suci.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abul Juhaim Al Anshariy, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah datang dari sumur Jamal, lalu ada seorang yang menemuinya dan mengucapkan salam, tetapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya hingga Beliau menghadap ke dinding (bertayammum) dan mengusap muka dan kedua tangannya, lalu menjawab salamnya."
3.         Tenang dan khusyu'
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al Anfal: 2)
Ayat ini menunjukkan, bahwa Allah Ta'ala menginginkan agar hamba-hamba-Nya ketika berdzikr hatinya khusyu' dan matanya menangis; tidak seperti yang dilakukan sebagian orang yang membaca kalimat dzikr namun hatinya tidak khusyu'. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda menerangkan salah satu di antara tujuh golongan orang yang mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya,
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاه
"Dan seseorang yang berdzikr kepada Allah di saat yang sepi, lalu matanya mengucurkan air mata."  (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka, yaitu: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bergadang (dalam jihad) di jalan Allah."  (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani)
لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai seperti susu berhenti keluar dari putingnya, dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap api neraka jahannam." (HR. Tirmidzi dan Nasa'i, dishahihkan oleh Al Albani)
4.         Memanfaatkan waktu untuk banyak berdzikr kepada Allah Ta'ala
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإِبْكَارِ
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari." (QS. Ali Imran: 41)
Aisyah radhiyallahu anha berkata,
- كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَذْكُرُ اَللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ -
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berdzikr kepada Allah di setiap waktunya." (HR.Muslim, dan diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq (tanpa sanad).

2. Al Baqarah ayat 152

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan   bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

7. Al A'raaf  ayat 205

205. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

33. Al Ahzab ayat 35

SIFAT-SIFAT ORANG MUKMIN DAN KEWAJIBAN MEREKA TERHADAP PERINTAH RASUL

35. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
33. Al Ahzab  Ayat 41

KEHARUSAN MENGINGAT ALLAH

41. Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir  yang sebanyak-banyaknya.

5.    Selalu Berdzikir baik ketika kondisi lapang maupun sempit & ketika ramai maupun sepi.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
"Kenalilah Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu susah." (HR. Ahmad dan Abul Qasim bin Bisyran dalam Amaalinya, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2961)
 يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.
Allah Ta’ala berfirman,
Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) jika dia ingat Aku.  Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari 8/171 dan Muslim 4/2061. Lafazh hadits ini riwayat Bukhari).
6.         Melazimi dzikr muqayyad
Seorang muslim hendaknya melazimi dzikr-dzikr muqayyad (yang ditentukan bacaannya dan pada waktu kapan dibaca), misalnya dzikr hendak tidur dan bangun tidur, dzikr memakai pakaian dan melepasnya, dzikr masuk wc dan keluar wc, dzikr menuju masjid, dzikr masuk dan keluar masjid, dzikr setelah shalat, dzikr pagi dan petang, dzikr ketika makan dan setelah makan, dzikr ketika berada di pasar, dsb. Dengan begitu, ia tidak termasuk orang-orang yang lalai, Allah Taala berfirman,
وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al A'raaf : 205)
Jika demikian, maka Allah akan melupakannya ketika dia butuh pertolongan-Nya baik di dunia maupun di akhirat.
Dan dzikr merupakan sebab untuk meraih kecintaan Allah Ta'ala dan menjadi wali-Nya. Tentunya dzikr tersebut harus ikhlas dibaca dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan dzikr yang diucapkan karena riya' atau sum'ah dan bukan pula dzikr yang tidak diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti Ratiban, Barzanji, shalawat badar, shalawat nariyah, dsb. Yang demikian adalah karena syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas dan mutaba'atur Rasul (mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).
7.         Memperhatikan adab dzikr dalam firman Allah Ta'ala di surat Al A'raf: 205.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الجَهْرِ مِنَ القَوْلِ بِالغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الغَافِلِيْنَ
"Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al A'raaf: 205)
Dalam ayat ini terdapat beberapa adab dzikr, yaitu:
a.    Berdzikr dalam hati (dengan diucapkan pula di lisan namun pelan). Hal ini lebih membantu keikhlasan.
b.    Berdzikr dengan tadharru' (merendahkan diri sambil mengakui kekurangan diri).
c.    Berdzikr sambil memiliki rasa takut, seperti takut akan siksa Allah karena kekurangan amalnya dan takut jika amalnya tidak diterima.
d.    Tidak mengeraskan suara. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
«أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ»
"Wahai manusia! Kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli lagi gaib; sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha dekat, dan Dia bersama kamu." (HR. Bukhari dan Muslim)
e.     Berdzikr dengan lisan; tidak hanya dengan hati saja.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "dengan tidak mengeraskan suara," (Terj.QS. Al A'raaf: 205) yang menunjukkan seseorang membaca dzikr tersebut dengan lisannya, namun tidak keras-keras.

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Ciri Fisik Rasulullah SAW Berdasarkan Hadits

Inilah Ciri-ciri Rasulullah Saw Menurut Beberapa Hadits-hadits shahih

1. Diriwayatkan Dari Al-Barra, Disebutkan Bahwa Dikatakan Kepadanya :"Apakah Rasulullah Seperti Pedang ??" Dia Menjawab : "Tidak, Wajah Beliau Laksana Terang Bulan Purnama." (Hr.Bukhari)

2. Diriwayatkan Dari Abu Sa'id Al-Khudri, Dia Berkata :"Bahwa Rasulullah Lebih Pemalu Daripada Gadis Pingitan." (Hr.Bukhari)



3. Diriwayatkan Dari Aisyah, Dia Berkata :"Rasulullah Tidak Pernah Bicara Dengan Cepat Dan Terburu-buru Sehingga Samar Seperti Kalian." (Hr.Bukhari)

4. Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar, Dia Berkata :"Rasulullah Bukanlah Orang Yang Keji Ataupun Kotor." (Hr.Bukhari)

5. Diriwayatkan Dari Abu Hurairah , Dia Berkata :"Rasulullah Tidak Pernah Mencela Makanan Sama Sekali, Apabila Beliau Menyukainya Maka Beliau memakannya, Jika Tidak , Maka Beliau Membiarkannya (Tanpa Memperlihatkan Ketidaksukaannya)." (Hr.Bukhari)

6. Diriwayatkan Dari Anas Bahwa Dia Pernah Ditanya, Apakah Rasulullah Mencelup Rambutnya, Dia Menjawab :"Tidak, Karena Rambut Putih Pada Pelipis Beliau Hanya Sedikit." (Hr.Bukhari)

7. Diriwayatkan Dari Al-Barra, Dia Berkata : "Rasulullah Adalah Orang Yang Paling Tampan Wajahnya, Sosoknya Paling Sempurna,Beliau Tidaklah Tinggi Menjulang Dan Tidaklah Pendek." (Hr.Bukhari)

8. Diriwayatkan Dari Al-Barra Bin Azib, Dia Berkata : "Tinggi Badan Rasulullah Sedang-sedang Saja,Berdada Bidang Dan Panjang Rambutnya Mencapai Kuping Telinganya, Suatu Saat Aku Pernah Melihat Beliau Mengenakan Jubah Merah, Tidak Ada Yang Lebih Tampan Dari Wajah Beliau." (Hr.Bukhari)

9. Diriwayatkan Dari Abu Juhaifah Bahwa Dia Pernah Melihat Rasulullah Shalat Di Bathha, Dihadapan Beliau Terdapat Anazah Sebagai Batasnya, Dalam Kutipan Hadits Ini Disebutkan Bahwa Sejumlah Orang Menyalami Rasulullah Setelah Itu Mengusapkan
Telapak Tangan Rasulullah Kewajahnya, Akupun Menyalami Tangan Beliau Dan Mengusapkan Tangan Beliau Ke Wajahku, Telapak Tangan Beliau Lebih Dingin Daripada Es dan Lebih Harum Dari Minyak Kasturi." (Hr.Bukhari)

10. Diriwayatkan Dari Anas Bin Malik, Dia Berkata :"Tinggi Rasulullah Sedang-sedang Saja, Tidak Tinggi, Tidak Pendek, Kulitnya Kemerahan, Tidak Benar-benar Putih , Tidak Benar-benar Coklat.Rambutnya Tidak Ikal Dan Tidak Lurus, Wahyu Pertama Diturunkan Ketika Beliau Ber-Usia 40 Tahun, Beliau Tinggal Di Mekkah 10 Tahun Dan Menerima Wahyu Selama Itu Dan Kurang Lebih 10 Tahun Dimadinah, Pada Saat Beliau Wafat, Uban Pada Janggut Dan Rambut Kepalanya Yang Mulia, Tidak Lebih Dari 20 Helai." (Hr.Bukhari)

Subhanallah, Sungguh Mulia Engkau Ya Rasulullah

Yaa Nabi Salam
Mu’alaika
Yaa Rasul Salam
Mu’alaika
Yaa Habib Salam Mu’alaika
Shalawatullah ‘Alaika.

  (Majelis ke 2) FAQIR (Fathur-Rabbany) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ   اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورس...