Selasa, 18 September 2012

TB Paru



A. Pengertian
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.
B. Etiologi

Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu mycobacterium tuberkulosis dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 0,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam.

C. Patofisiologi

Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan keluar menjadi droflet nuklei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet. dan ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh linfe, basil berpindah kebagian paru – paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain.
Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang pertama terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk merangsang macrofage, berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini berhasil & macrofage lebih banyak maka klien akan sembuh dan daya tahan tubuhnya akan meningkat.
Tetapi apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan bersarang didalam jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkel (biji – biji kecil sebesar kepala jarum).
Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung menjadi satu dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut.apabila jaringan yang nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk yang menyebabkan pembuluh darah pecah, maka klien akan batuk darah (hemaptoe).

D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala pada klien secara obyektif adalah :
  1. Keadaan postur tubuh klien yang tampak etrangkat kedua bahunya.
  2. BB klien biasanya menurun; agak kurus.
  3. Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40 - 41° C.
  4. Batu lama, > 1 bulan atau adanya batuk kronis.
  5. Batuk yang kadang disertai hemaptoe.
  6. Sesak nafas.
  7. Nyeri dada.
  8. Malaise, (anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat pada malam hari).
E. Pemeriksaan Penunjang
  1. Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.
  2. Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat.
  3. Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda.
  4. Elisa / Western Blot : dapat menyatakan adanya HIV.
  5. Foto thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa.
  6. Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urien dan cairan serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis.
  7. Biopsi jarum pada jarinagn paru ; positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa menunjukan nekrosis.
  8. Elektrosit, dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex ;Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas. GDA dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.
  9. Pemeriksaan fungsi pada paru ; penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).
F.Penatalaksanaan

Dalam pengobatan
TB paru dibagi 2 bagian :
  1. Jangka pendek.
Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.
    • Streptomisin inj 750 mg.
    • Pas 10 mg.
    • Ethambutol 1000 mg.
    • Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi.
Therapi TB paru dapat dilakkukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan jenis :
    • INH.
    • Rifampicin.
    • Ethambutol.
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.
  1. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :
    • Rifampicin.
    • Isoniazid (INH).
    • Ethambutol.
    • Pyridoxin (B6).
A. Pengkajian
  1. Aktivitas / istirahat.
  2. Gejala :
    • Kelelahan umum dan kelemahan.
    • Nafas pendek karena bekerja.
    • Kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari, menggigil dan atau berkeringat.
    • Mimpi buruk.
Tanda :
    • Takhikardi, tachipnoe, / dispnoe pada kerja.
    • Kelelahan otot, nyeri dan sesak (pada tahap lanjut).
  1. Integritas Ego.
  2. Gejala :
    • Adanya faktor stres lama.
    • Masalah keuanagan, rumah.
    • Perasaan tak berdaya / tak ada harapan.
    • Populasi budaya.
Tanda :
    • Menyangkal. (khususnya selama tahap dini).
    • Ancietas, ketakutan, mudah tersinggung.
  1. Makanan / cairan.
Gejala :
    • Anorexia.
    • Tidak dapat mencerna makanan.
    • Penurunan BB.
Tanda :
    • Turgor kulit buruk.
    • Kehilangan lemak subkutan pada otot.
  1. Nyeri / kenyamanan.
Gejala :
    • Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda :
    • Berhati-hati pada area yang sakit.
    • Perilaku distraksi, gelisah.
  1. Pernafasan.
    Gejala :
    • Batuk produktif atau tidak produktif.
    • Nafas pendek.
    • Riwayat tuberkulosis / terpajan pada individu terinjeksi.
Tanda :
    • Peningkatan frekuensi nafas.
    • Pengembangan pernafasan tak simetris.
    • Perkusi dan penurunan fremitus vokal, bunyi nafas menurun tak secara bilateral atau unilateral (effusi pleura / pneomothorax) bunyi nafas tubuler dan / atau bisikan pektoral diatas lesi luas, krekels tercatat diatas apeks paru selam inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekels – posttusic).
    • Karakteristik sputum ; hijau purulen, mukoid kuning atau bercampur darah.
    • Deviasi trakeal ( penyebaran bronkogenik ).
    • Tak perhatian, mudah terangsang yang nyata, perubahan mental ( tahap lanjut ).
  1. Keamanan.
    Gejala :
    • Adanya kondisi penekana imun, contoh ; AIDS, kanker, tes HIV positif (+)
Tanda :
    • Demam rendah atau sakit panas akut.
  1. Interaksi sosial.
Gejala :
    • Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular.
    • Perubahan pola biasa dalam tangguang jaawab / perubahan kapasitas fisik untuk melaksankan peran.
  1. Penyuluhan / pembelajaran.
Gejala :
    • Riwayat keluarga TB.
    • Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk.
    • Gagal untuk membaik / kambuhnya TB.
    • Tidak berpartisipasi dalam therapy.
B. Diagnosa keperawatan Yang Muncul
  1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
  2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1. :
Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif.
Kriteria hasil :
  • Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara.
  • Mendemontrasikan batuk efektif.
  • Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.
Intervensi :
  • Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.
  • R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
  • Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
  • R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
  • Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
  • R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
  • Lakukan pernapasan diafragma.
  • R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.
  • Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
  • R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
  • Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
  • R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
  • Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
  • R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
  • Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
    R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
  • Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter : pemberian expectoran, pemberian antibiotika, konsul photo toraks.
  • R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.
Diagnosis Keperawatan 2. :
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
Tujuan : Pertukaran gas efektif.
Kriteria hasil :
  • Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
  • Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
  • Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
Intervensi :
  • Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
    R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
  • Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
  • R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
  • Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
    R/Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
  • Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
    R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
  • Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
    R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
  • Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter : pemberian antibiotika,
  • Pemeriksaan sputum dan kultur sputum, konsul photo toraks.
  • R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges. E. Marylin. 1992.Nursing Care Plan. EGC. Jakarta.
Pearce. C. Evelyn. 1990.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta.

Konsep GADAR


TPU
Peserta mampu memahami penanganan kegawat daruratan dasar
TPK
Peserta mampu
1.Menjelasakan konsep keperawatan gawatdarurat
2.Menjelaskan pengkajian keperawatan gawatdarurat
3.Menjelaskan bantuan hidup dasar pada dewasa dan anak

KONSEP KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
KARAKTERISTIK
PELAYANAN KEPERAWATAN
DI UNIT GAWAT DARURAT
Kondisi kegawatan seringkali tidak terprediksi: kondisi klien, jumlah klien dan klg yang datang
Kecemasan tinggi/panik dari klien dan keluarga
Keterbatasan sumber daya dan waktu
Lanjutan…..
Pengkajian, diagnosis, dan tindakan keperawatan diberikan untuk seluruh usia, dengan data dasar yang sangat terbatas
Jenis tindakan yang diberikan: tindakan yang memerlukan kecepatan dan ketepatan yang tinggi
Adanya saling ketergantungan yang tinggi antara profesi kesehatan yang bekerja di ruang gawat darurat
PRINSIP UMUM
ASUHAN KEPERAWATAN
1.Menerapkan prinsip universal precaution dan asuhan yang aman untuk klien
2.Cepat dan tepat
3.Tindakan keperawatan diberikan untuk mengatasi masalah fisik dan psikososial klien.
4.Monitoring kondisi klien
5.Penjelasan dan pendidikan kesehatan
6.Asuhan diberikan menyeluruh (triase, proses resusitasi, stabilisasi,  kematian, dan penanganan  bencana)
7.Sistem dokumentasi dapat digunakan secara mudah, cepat dan tepat
8.Aspek etik dan legal keperawatan perlu dijaga
PELAYANAN KESEHATAN MULTIDISIPLIN
Dokter
Perawat
Ahli rotgen
Petugas Laboratorium
Petugas ambulans
Petugas pembinaan mental
dan lainnya.
ALUR PELAYANAN PASIEN DI UNIT GAWAT DARURAT
Sistem yang terganggu: di triase keluhan utama pasien dikaji, lalu  ditetapkan organ yang mungkin terganggu dan asal gangguannya (misalnya; bedah, penyakit dalam, kebidanan).
Tingkat kegawatan yang diderita : di triase tingkat kegawatan pasien ditentukan (gawat darurat/darurat tidak gawat/gawat tidak darurat/tidak gawat & tidak darurat
TRIASE
Tujuan:
Menjaga alur klien di IGD
Menetapkan derajat kegawatan klien
KLASIFIKASI (KODE/WARNA)
Merah   à GD  
Kuning  à Darurat tidak gawat
Hijau    à Tidak gawat dan tidak daurat
Hitam   à death on arrival
Memberikan tindakan yang cepat dan tepat
Meningkatkan kualitas pelayanan
TINDAKAN TAMBAHAN DI TRIASE
1.memberikan informasi untuk pasien dan keluarga yang datang,
2.memberikan petunjuk kesehatan,
3.menunjukkan arah
4.menerima telpon, dan komunikasi.
perawat triase harus perawat yang berpengetahuan, berpengalaman, dan memiliki kemampuan pengkajian cepat (rapid assessment) untuk menentukan tingkatan kegawatan klien

Prioritas Kegawatan

di Gawat Darurat
1. Gawat Darurat (mengancam kehidupan)
Kesulitan bernafas  - cedera kepala berat
Henti jantung (cardiac arrest)  - keracunan
Gangguan vertebrata  - shok
Nyeri dada  - multipel injuri berat
Luka terbuka dada dan abdomen  - kelainan persalinan
Perdarahan tidak terkontrol/mayor   - Kejang  
2. Gawat tidak darurat
Nyeri karena gangguan paru  - luka bakar
Multipel fraktur   - penurunan kesadaran
Diare, muntah terus menerus  - panas tinggi
REAKSI EMOSI
DI UNIT GAWAT DARURAT
cemas
kehilangan

CEMAS
berulang-ulang menanyakan hal tertentu
gerakan yang berulang-ulang
mimik muka tidak tenang
tidak dapat bekerja sama
meningkat tekanan darah, nadi, pernafasan
Tindakan keperawatan
kaji tanda-tanda vital pasien
kaji fokus pembicaraan
kaji alasan dan tingkat kecemasan
orientasikan orang, ruang, dan waktu
jelaskan ketentuan yang berlaku di gawat darurat
jelaskan program pengobatan dan alasan
biarkan orang terdekat menemani dan membantu pasien
bersikap tenang, tidak panik dan tegas
KEHILANGAN
Menolak/tidak percaya
Marah
Tawar menawar
Depresi
Menerima
Prinsip tindakan keperawatan adalah untuk keluarga pasien yang meninggal
cek agama agar dapat memberikan asuhan yang sesuai agama pasien
empati akan kondisi keluarga; menunjukkan ekspresi muka tenang dan tersenyum, menatap keluarga
mendengar aktif keluhan
berdiri di samping keluarga dengan tenang
memberikan lingkungan yang tenang,
memberikan dukungan sesuai agama
merujuk ke tim bina rohani
PENCEGAHAN INFEKSI
Jenis tindakan beresiko penularan:
Resiko rendah
     Kontak langsung dengan kulit, tidak terpapar darah langsung. Misalnya; melakukan penyuntikan, perawatan luka ringan. Alat pelindung sarung tangan.
Resiko sedang
    Adanya kemungkinan terkena darah namun tidak ada cipratan. Misalnya; membersihkan ceceran darah, perawatan luka berat, pemasangan infus, penanganan bahan pemeriksaan laboratorium. Alat pelindung; sarung tangan, mungkin perlu baju pelindung
Resiko tinggi
     Adanya kemungkinan terkena darah dan kemungkinan terciprat, perdarahan masif. Misalnya; tindakan bedah mayor, bedah mulut, penghentian perdarahan masif, persalinan pervagina. Alat pelindung; sarung tangan, gaun pelindung, kaca mata kerja, masker, sepatu bot
KEGIATAN POKOK KEWASPADAAN UNIVERSAL PRECAUTION
Cuci tangan
Pemakaian alat-alat pelindung: pemakaian sarung tangan, masker, kacamata pelindung, baju pelindung, sepatu karet/bot, topi
Menggunakan praktik yang aman
Pengelolan alat kesehatan bekas pakai
PENGKAJIAN KEPERAWATAN
GAWAT DARURAT
KARAKTERISTIK
1.Dilakukan secara cepat
2.Dilakukan sesuai dengan prioritas kegawatdarutan
3.Pengkajian fokus pada keadaan pasien
PENGKAJIAN GAWAT DARURAT
APA YANG PERAWAT KAJI?
JENIS PENGKAJIAN
1.UMUM
2.KESADARAN
3.PRIMER
4.SEKUNDER
PENGKAJIAN UMUM
Kesan perawat terhadap pasien saat datang
Sakit berat
Sakit sedang
Sakit ringan
PENGKAJIAN KESADARAN: AVPU
ALERT/SADAR LINGKUNGAN
VERBAL/MENJAWAB PERTANYAAN
PAIN/NYERI
UNRESPONSIVE/TIDAK BEREAKSI
PENGKAJIAN PRIMER:
AIRWAY   à bebasnya jalan nafas
BREATHING  à adekuat pernafasan
CIRCULATION   à adekuat jantung dan       sirkulasi tubuh
Korban sadar atau tidak ?
(sumber GELS)
Sadar ® ajak bicara
jika suara jelas =     airway bebas
Tak sadar ® bebaskan jalan nafas
  - chin lift / head tilt
  - jaw thrust
Ada nafas?                                     -lihat, dengar, raba nafas
Tidak ada nafas
   - berikan nafas buatan
-berikan oksigen
-
CEK KAROTIS
Pasien sadar
raba nadi radialis
shock ?
evaluasi perfusi
ukur tek darah
Ada nadi carotis
raba nadi radialis
shock ?
evaluasi perfusi
ukur tek darah
Pasien tak sadar
raba nadi carotis
cardiac arrest ?
Tidak ada nadi carotis
Shock ?
Perfusi :
pucat - dingin - basah
cap. refill time lambat (kuku, telapak)
Nadi > 100
Tekanan darah < 100 (atau 90) mmHg
CARA MENGKAJI
1.LOOK à LIHAT TANDA TRAUMA, WARNA KULIT, LIHAT PERGERAKAN DADA
2.LISTEN à DENGAR SUARA NAFAS
3.FEEL à RASA ADANYA PERGERAKAN UDARA
PENGKAJIAN PRIMER
Kesadaran (bisa bicara?)
LOOK, LISTEN AND FEEL
Ada nafas ?
Gerak dada
Gerak otot-nafas-tambahan
Warna kulit, mukosa, kuku
Cara palpasi nadi
PENGKAJIAN SEKUNDER
RIWAYAT PASIEN:
S  (signs and symptoms)
A  (Allergies)
M (Medications)
P  (Pertinent past medical history)
L  (Last oral intake solid liquid)
E  (Event leading to injury or illness)
TANDA-TANDA VITAL
1.Tekanan darah
2.Irama dan kekuatan nadi
3.Irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu pernafasan
4.Suhu tubuh
PENGKAJIAN KEPALA, LEHER & WAJAH
OBSERVASI dan PALPASI
Kulit kepala
Wajah
Mata
Hidung
telinga
Mulut
Leher
Nyeri tulang servikal  dan tulang belakang dll.
Pengkajian dada
Pengkajian abdomen
Pengkajian pelvis
Pengkajian ekstremitas
Pengkajian tulang belakang
1.Deformitas tulang belakang
2.Tanda-tanda jejas,perdarahan
3.Lecet/ luka
Pengkajian psikososial
1.Reaksi emosional
2.Riwayat serangan panik
3.Tanda-tanda gangguan psikososial
Pemeriksaan penunjang
Radiology dan scaning
Pemeriksaan laboratorium
USG dan EKG

  (Majelis ke 2) FAQIR (Fathur-Rabbany) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ   اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورس...