Selasa, 20 November 2012

TRIAGE



 DASAR

Pelayanan lebih baik bila tim medis bekerja bersama dalam struktur organisasi.
Semua protokol harus berfungsi dan dalam tingkat pengertian yang sama dari setiap petugas.

 TRIASE

Trier (fr) : menyortir atau memilih.
Dirancang untuk menempatkan pasien yang tepat diwaktu yang tepat dengan pemberi pelayanan  yang tepat.

 SISTEM TRIASE

Non Bencana : Memberikan pelayanan terbaik pada pasien secara individu.
Bencana / Korban Berganda : Memberikan pelayanan paling efektif untuk sebanyak mungkin pasien

 OBJEKTIF PRIMER DI IRD

 1.  Pengenalan tepat yang butuh pelayanan segera
 2.  Menentukan area yang layak untuk tindakan
3. Menjamin kelancaran pelayanan dan mencegah hambatan yang tidak       
     perlu
 4.  Menilai dan menilai ulang pasien baru / pasien yang menunggu
 5.  Beri informasi /rujukan pada pasien / keluarga
 6.  Redam kecemasan pasien / keluarga; humas.

 ATURAN PRIMER PETUGAS

 1.  Skrining pasien secara cepat.
 2.  Penilaian terfokus.

 SASARAN PRIMER DAN SEKUNDER TRIASE

 1.  Primer :  Mengenal kondisi yang mengancam jiwa.
 2.  Sekunder : Memberi prioritas pasien sesuai kegawatannya.

 PRINSIP UMUM TRIASE

 1.  Perkenalkan diri anda dan jelaskan apa yang akan anda lakukan.
 2.  Pertahankan rasa percaya diri pasien.
3.  Coba untuk mengamati semua pasien yang datang, bahkan saat                
     mewawancara pasien.
4. Pertahankan arus informasi petugas triase dengan area tunggu & area
     tindakan. Komunikasi lancar sangat perlu. Bila ada waktu:
     penyuluhan.
5. Pahami sistem IRD dan keterbatasan anda. Ingat objektif primer       
     aturan triase. Gunakan sumber daya untuk mempertahankan     
     standar pelayanan memadai.
  PAHAMI JUGA :
 1.  Struktur pembagian ruangan dengan perangkat  yang sesuai.
 2.  Pemeriksaan fisik singkat dan terfokus.
3.     WASPADA atas pasien dengan ancaman jiwa atau serius potensial   
     terancam hidup atau anggota badannya harus didahulukan dalam          
     penilaian hingga dapat segera ditindak.

 TRIASE GAWAT DARURAT MASSAL

 TERMINOLOGI

 1. Gadar massal.
     Keadaan musibah dengan korban lebih dari 30 orang.
 2. Petunjuk gadar massal.
     Prosedur yang disusun untuk mengkoordinasikan pelayanan secara  
     spontan untuk unit-unit kerja dan instansi / SMF terkait apabila timbul
     suatu situasi gadar massal.
 3. Care area.
     Daerah yang dipergunakan untuk memberikan pertolongan pertama
     kepada korban musibah massal.
 4. Collection area.
     Daerah yang dipergunakan untuk mengumpulkan pertama-kali korban  
     gadar.
5. Crisis center / Emergency operation center.
    Tempat berkumpulnya seluruh pimpinan partisipan atau instansi/SMF 
    yang terlibat dalam penanggulangan gadar massal, dan dari tempat tsb.
    dikeluarkan seluruh informasi serta keputusan penting selama kegiatan                        
    berlangsung.
6. Drill.
    Latihan yang mempraktekkan perencanaan penanggulangan gadar
    massal, untuk menyempurnakan serta efektifitas perencanaan     
    penanggulangan gadar massal.
7. Emergency Operation Committee.
    Komite yang dibentuk dalam rangka mendukung, mengkoordinasi, dan
    memantau kegiatan operasional dalam penanggulangan gadar massal.
8. Full Scale Emergency Exercise.
     Latihan penanggulangan gadar massal dengan mengerahkan dan
     memanfaatkan seluruh peralatan dan personal sebagaimana                      
     dipergunakan untuk penanggulangan gadar massal sesungguhnya.
 9. Greeter & Meeters Room.
     Tempat yang diperuntukkan bagi berkumpunya para keluarga korban
     gadar massal.
10. Grid Map.
      Peta lingkungan yang dilengkapi garis-garis petak yang mempunyai
      ukuran sebenarnya 1 m persegi, diberi nomor dan huruf sehingga          
      memudahkan mencari suatu lokasi.
 11. Heli Pad.
       Tempat yang dipersiapkan untuk pendaratan helikopter.
12. Holding area.
       Tempat sementara yang dipersiapkan bagi korban yang tidak luka.
 13. On Scene Commander.
       Pemimpin operasi penanggulangan gadar massal dilokasi musibah.
14. Procedure.
       Tatacara yang harus diikuti dalam melaksanakan kegiatan.
 15. Security Line.
       Garis pemisah berupa pita berwarna kuning sebagai batas area
       tertentu yang berada dalam pengawasan security.
16. Rendezvous Point.
      Tempat yang sudah ditentukan dimana tenaga atau kendaraan bantuan 
      yang akan terlibat dalam penanggulangan keadaan gadar massal,      
      untuk pertama kali menerima pemberitahuan langsung bertemu satu
      dengan lainnya, kemudian menuju kelokasi.

KLASIFIKASI PENANGGULANGAN   GADAR MASSAL

 A. PENANGGULANGAN GADAR MASSAL DIRUMAH-SAKIT :
      Petugas melayani korban di IGD.                     
 B. PENANGGULANGAN GADAR MASSAL DILOKASI MUSIBAH :
      Petugas melayani korban dilokasi musibah.

 FUNGSI DAN TANGGUNG-JAWAB

 Penanggulangan gadar massal dilaksanakan secara terpadu oleh unsur terkait,
meliputi :
 A. KOMANDO PENGENDALI
1.     Kepala IGD atau pejabat lain yang ditunjuk sebagai komando untuk
     penanggulangan gadar massal.
2.     Pimpinan Pemda setempat atau Satkorlak PB ditunjuk sebagai
     Komando penanggulangan gadar massal dilokasi musibah.
B. PENGELOMPOKAN TIM
1.     Kelompok pengendali di Pusat Pengendali Krisis terdiri dari Ketua   
     dan Anggota.
 2. Kelompok pendukung yang terdiri dari :
     a. Komunikasi (Orari, Rapi).
     b. Transportasi dan logistik (118).
     c. Fasilitas yang diperlukan (Dinkes).
3. Kelompok Pelaksana terdiri dari :
     a. Operasi pertolongan.
     b. Pelayanan kesehatan.
     c. Pengamanan dan ketertiban.

 TUGAS DAN TANGGUNG-JAWAB

 1. Kelompok Pengendali
 a. Ketua :
1. Bertindak sebagai komando dan pengendali sesuai dengan
   kewenangannya.
     2. Mengkoordinir kegiatan dipusat pengendali krisis.
     3. Menentukan pemberlakuan dan pencabutan keadaan darurat.
     4. Memberi keterangan pers.
     5. Melaporkan keadaan darurat dan hasil kegiatan yang telah
         dilakukan kepada pimpinan.
b. Anggota :
     1. Melaksanakan kegiatan sesuai bidang tugasnya.
2. Menginformasikan kepada Ketua tentang perkembangan situasi  
   dilapangan.
     3. Berkoordinasi dengan kelompok pendukung dan pelaksana.
2. Kelompok Pendukung
     Kegiatan kelompok pendukung ini dikoordinir oleh Pimpinan / Pejabat
     yang ditunjuk masing-masing unit fungsional.
     Tugas kelompok pendukung :
     a. Menyiapkan dukungan komunikasi.
     b. Menyiapkan Transportasi dan Logistik.
     c. Menyiapkan fasilitas yang diperlukan dalam operasional.
     d. Berkoordinasi dengan Kelompok Pengendali dan Pelaksana.
3. Kelompok Pelaksana
 a. Pelayanan medis
          1. Di IGD.
          a). IGD dan dokter IGD sebagai koordinator.
          b). SMF dan unsur medis lainnya sebagai pelaksana.
2.  Didaerah bencana.
          a). Dinas Kesehatan setempat atau Pejabat yang ditunjuk sebagai 
                koordinator Tim Medis.
          b). Tim IGD dan unsur medis lainnya bertanggung-jawab terhadap
                pelaksanaan pelayanan medis.
     3.  Melaporkan hasil identifikasi korban baik kejadian di IGD 
          maupun didaerah bencana ke Pusat Pengendali Krisis (EOC).
b. Pengamanan dan Ketertiban
 1. Di IGD
     a). Ka Satpam sebagai koordinator semua semua unsur pengamanan.
     b). Satpam bertanggung-jawab atas :
       - Kelancaran lalu-lintas ke dan dari lokasi musibah.
       - Ketertiban penempatan korban yang selamat.
       - Ketertiban orang-orang yang tidak berkepentingan.
       - Keamanan barang-barang korban.
2. Dilokasi bencana :
     Diatur oleh kapolda.

 TRIASE MUSIBAH MASSAL

 MUSIBAH MASSAL
 Bahaya dan kesulitan masing-masing.
 Petunjuk umum mengelola musibah massal.
 Mungkin diperlukan modifikasi.
 Ulah manusia atau alam.
 Setiap keadaan dimana jumlah pasien sakit atau cedera melebihi  
 kemampuan Sistem Gawat darurat lokal, regional atau nasional dalam
 memberikan perawatan adekuat secara cepat dalam meminimalkan 
 cedera atau kematian.
 KEBERHASILAN PENGELOLAAN MEMERLUKAN :
1.     Perencanaan sistem pelayanan gawat darurat lokal, regional dan  nasional,
2.     Pemadam kebakaran,
3.     Petugas hukum,
4.     Pertahanan sipil.
5.     Kesiapan rumah sakit,
6.     Kesiapan pelayanan spesialistik.
Proses diatur Sistem Komando Bencana.
Kendali ditangan Satkorlak.
Bisa juga pada penegak hukum : kasus kriminal atau penyanderaan.
Kelompok lain membantu.
Jaringan komunikasi antar instansi.
 Tingkat respons atas musibah massal dapat ditentukan :
 tentukan petugas dan sarana apa yang diperlukan ditempat kejadian.
Respons Tingkat I :
 Musibah massal terbatas : dapat dikelola petugas  Sistim Gawat darurat dan
penyelamat lokal tanpa perlu bantuan dari luar organisasi.
Respons Tingkat II :
  Musibah massal melebihi/sangat membebani petugas Sistim Gawat      
  darurat dan penyelamat lokal :
  Membutuhkan pendukung sejenis serta koordinasi antar instansi.
  Khas dengan banyaknya jumlah korban.
Respons Tingkat III :
 Musibah massal melebihi kemampuan sumber Sistim Gawat darurat dan    
  penyelamat baik lokal atau regional.
 Banyak pasien tersebar pada banyak lokasi sering terjadi. Diperlukan 
  koordinasi luas antar instansi.
 TRIASE.
 Proses khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit :
menentukan jenis perawatan gawat darurat serta transportasi.
Proses yang berkesinambungan sepanjang pengelolaan.
Triase inisial dilakukan petugas pertama yang tiba.
Nilai ulang terus menerus karena status dapat berubah.
 Tidak ada standard nasional baku :
1. METTAG (Triage tagging system).
2. Sistim triase Penuntun Lapangan  START
    (Simple Triage And Rapid Transportation).
 Sistim METTAG.
Pendekatan untuk memprioritisasikan tindakan :
 Prioritas Nol (Hitam) :
Mati atau jelas cedera fatal.
Tidak mungkin diresusitasi.
 Prioritas Pertama (Merah) :
          Cedera berat yang perlukan tindakan dan transport segera.
1. gagal nafas,
2. cedera torako-abdominal,
3. cedera kepala / maksilo-fasial berat,
4. shok atau perdarahan berat,
5. luka bakar berat.
 Prioritas Kedua (Kuning) :
          Cedera yang dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam 
          waktu dekat :
1. cedera abdomen tanpa shok,
2. cedera dada tanpa gangguan respirasi,
3. fraktura mayor tanpa shok,
4. cedera kepala / tulang belakang leher,
5. luka bakar ringan.
 Prioritas Ketiga (Hijau) :
          Cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera :
1. cedera jaringan lunak,
2. fraktura dan dislokasi ekstremitas,
3. cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas,
4. gawat darurat psikologis.
 Penuntun Lapangan START :
 penilaian pasien 60 detik, mengamati :
     1. ventilasi,
     2. perfusi,
     3. status mental,
 untuk memastikan kelompok korban :  
     a. perlu transport segera / tidak,      
     b. tidak mungkin diselamatkan,
     c. mati.
 Penuntun Lapangan START :
 Memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan korban yang 
 dengan risiko besar akan kematian segera atau apakah tidak memerlukan    
 transport segera.
  Sistim METTAG atau pengkodean dengan warna system tagging yang 
 sejenis, bisa digunakan sebagai bagian dari Penuntun Lapangan START.
 PENILAIAN DITEMPAT DAN PRIORITAS TRIASE :
 1. Pertahankan keberadaan darah universal dan cairan.
2. Tim respons pertama harus menilai lingkungan atas kemungkinan bahaya,
keamanan dan jumlah korban untuk menentukan tingkat respons yang memadai.
3. Beritahukan koordinator untuk mengumumkan musibah massal dan kebutuhan
akan dukungan antar instansi sesuai yang ditentukan oleh beratnya kejadian.
4. Kenali dan tunjuk pada posisi berikut bila petugas yang mampu tersedia :
     a.  Petugas Komando Musibah
     b.  Petugas Komunikasi.
     c.  Petugas Ekstrikasi / Bahaya
     d.  Petugas Triase Primer
     e. Petugas Triase Sekunder.
     f. Petugas Perawatan.
     g. Petugas Angkut atau Transportasi.
5. Kenali dan tunjuk area sektor musibah massal :              
     a. Sektor Komando/Komunikasi.
     b. Sektor Pendukung (Kebutuhan dan Tenaga).
     c. Sektor Musibah.
     d. Sektor Ekstrikasi.
     e.  Sektor Triase
     f.  Sektor Tindakan Primer
     g.  Sektor Tindakan Sekunder
     h.  Sektor Transportasi
6. Rencana Pasca Kejadian Musibah massal :
     a. Kritik Pasca Musibah.
     b. CISD (Critical Insident Stress Debriefing).
 RINGKASAN PROSEDUR MUSIBAH MASSAL DASAR,
INTERMEDIET DAN PARAMEDIK.
Semua petugas harus waspada dan memiliki pengetahuan sempurna dalam peran
khususnya dan pertanggung-jawabannya dalam usaha penyelamatan.
 Karena banyak keadaan musibah massal yang kompleks, dianjurkan bahwa
Semua petugas harus berperan-serta dan harus menerima pelatihan tambahan
dalam pengelolaan musibah massal.